Langsung ke konten utama

Pelan aja, damai nggak harus instan kok

 

“Aku mencintai caraku mencintai diriku. 
Karena meskipun gagal, Aku tetap ingin bertumbuh”

Sadar nggak sih, ada masa-masa di mana kita terlalu sibuk menilai diri dari seberapa jauh kita tertinggal, dari seberapa banyak hal yang belum bisa kita lakukan, dan dari seberapa sempurna hasil yang belum bisa kita capai. 

Tapi, akhir-akhir ini, Nggak tau kenapa, aku mulai sadar bahwa
"Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada hasil, 
sampai-sampai kita lupa bahwa 
memeluk proses adalah bagian terpenting dari perjalanan kita"

Mungkin saja, kita terlalu terburu-buru ingin merasa baik-baik saja. Kita ingin semua luka cepet sembuh, semua beban cepat hilang, malahan nggak jarang kita merasa kalau semua hal dalam hidup kita itu harus segera menemukan tempatnya. 

Padahal, tidak semua hal harus selesai sekarang juga. Ada hal yang memang benar-benar butuh waktu dan kita tidak perlu memaksakan diri kita untuk tenang, sebelum waktunya. Ada perjalanan yang bisa menjadi pelajaran paling berharga ketika kita mampu menikmatinya. Bahkan, akan selalu ada hal baik yang mampu kita lihat dalam setiap prosesnya. 

Lalu, pada akhirnya bagian terbaik dari perjalanan itu adalah "Berdamai" dengan diri kita sendiri. Berdamai dengan kita yang apa adanya. berdamai dengan kita yang banyak kurangnya. Berdamai dengan diri kita yang mungkin terlihat begitu-begitu saja.

Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti kita sudah berhenti kecewa, atau berhenti menyesal atas hal-hal yang belum berjalan baik. Berdamai adalah kesadaran penuh terhadap diri kita sendiri. Menyadari bahwa kita adalah manusia yang sedang belajar untuk memahami, menerima, dan memperbaiki diri. Secara perlahan, Satu per satu. Pada fase ini juga, kita menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan kita, melaikan salah satu rintangan yang akan membersamai setiap perjalanan kita menuju versi diri yang jauh lebih baik.

Kita ingin belajar berjalan pelan-pelan, bukan karena takut gagal, tapi karena kita ingin hidup di setiap moment perjalanan kita. Kita ingin mencatat hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, agar kita tahu bahwa kita sedang benar-benar tumbuh, meskipun perlahan.

Karena sejatinya, validasi yang paling menenangkan justru datang dari diri sendiri. Dari kesadaran bahwa kita masih mau mencoba.
Bahwa sekecil apa pun langkah yang kita ambil hari ini, semua itu tetap berarti.
Bahwa pertumbuhan bukan tentang seberapa cepat kita melesat, tapi tentang seberapa tulus kita mau berjalan.

Mungkin juga, selama ini kita terlalu sering menghukum diri atas hal-hal yang belum sempurna. Kita menghukum setiap kemunduran, mengabaikan setiap usaha kecil yang sebenarnya berarti.
Padahal, setiap kali kita memilih untuk memahami daripada menghakimi, kita sedang menyembuhkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar malas, marah ataupun kecewa. 
Kita, sedang menyembuhkan hati kita sendiri.

Kita mulai belajar bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu kuat.
Tidak apa-apa untuk tidak langsung damai.
Yang penting, kita tetap ada di sini, mencoba dengan lembut setiap harinya.
Dengan begitu, kita akan memahami bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah perjalanan tanpa akhir. Ia tidak datang sekaligus. Ia datang perlahan, dalam diam, dalam tenang, dan dalam usaha kecil yang sering kali tidak terlihat. 

Mungkin saja, disitu letak keindahan dari prosesnya. Kita belajar untuk sabar, bukan karena kita pasrah, tapi kita percaya bahwa sekecil apapun itu, adalah bagian dari perjalanan kita untuk melangkah. Yang pasti, setiap kali kita memilih untuk tetap berusaha, untuk tetap mencintai, dan untuk tetap tumbuh setiap hari, kita tahu kita sedang melangkah ke arah yang benar.

“Mungkin kita belum sampai, tapi kita sudah berjalan.”

Yogyakarta, 10 Oktober 2025
-Irba Hanifah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FAILURE👐

"Life but not live Lost but the last Fail but not fall" Kita belajar banyak hal dari kegagalan.  Sampai pada satu titik kita bertanya  "untuk apa?" Kemudian waktu menjawab segala bentuk tanya dengan cara yang bahkan sebelumnya tak pernah terbayangkan.  Dengan hal yang sebelumnya hanya sebatas "perasaan sesaat".  Waktu menjawab dengan cara paling sederhana yang rupanya butuh kelapangan hati untuk melihatnya.  Barangkali sebab itu,  api yang bergejolak disana belum sepenuhnya padam . Hati kita terlalu sempit untuk melihat begitu banyak hal baik.  Hati kita terlalu sempit untuk melihat banyaknya cinta. Bahkan hati kita terlalu sempit untuk sekedar menerima bahwa sejatinya kita memang bukan siapa-siapa.  Iya!! Angkuh perlahan mendorong kita jatuh.  Mempersempit hati yang sebetulnya adalah ruang paling luas untuk bertumbuh.  Namun, satu hal yang juga bisa kita pahami adalah... Kegagalan tidak untuk menjatuhkan. -irba, 21 september...