“Aku mencintai caraku mencintai diriku. Karena meskipun gagal, Aku tetap ingin bertumbuh” Sadar nggak sih, ada masa-masa di mana kita terlalu sibuk menilai diri dari seberapa jauh kita tertinggal, dari seberapa banyak hal yang belum bisa kita lakukan, dan dari seberapa sempurna hasil yang belum bisa kita capai. Tapi, akhir-akhir ini, Nggak tau kenapa, aku mulai sadar bahwa "Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada hasil, sampai-sampai kita lupa bahwa memeluk proses adalah bagian terpenting dari perjalanan kita" Mungkin saja, kita terlalu terburu-buru ingin merasa baik-baik saja. Kita ingin semua luka cepet sembuh, semua beban cepat hilang, malahan nggak jarang kita merasa kalau semua hal dalam hidup kita itu harus segera menemukan tempatnya. Padahal, tidak semua hal harus selesai sekarang juga. Ada hal yang memang benar-benar butuh waktu dan kita tidak perlu memaksakan diri kita untuk tenang, sebelum waktunya. Ada perjalanan yang bisa menjadi pelaj...
"Life but not live Lost but the last Fail but not fall" Kita belajar banyak hal dari kegagalan. Sampai pada satu titik kita bertanya "untuk apa?" Kemudian waktu menjawab segala bentuk tanya dengan cara yang bahkan sebelumnya tak pernah terbayangkan. Dengan hal yang sebelumnya hanya sebatas "perasaan sesaat". Waktu menjawab dengan cara paling sederhana yang rupanya butuh kelapangan hati untuk melihatnya. Barangkali sebab itu, api yang bergejolak disana belum sepenuhnya padam . Hati kita terlalu sempit untuk melihat begitu banyak hal baik. Hati kita terlalu sempit untuk melihat banyaknya cinta. Bahkan hati kita terlalu sempit untuk sekedar menerima bahwa sejatinya kita memang bukan siapa-siapa. Iya!! Angkuh perlahan mendorong kita jatuh. Mempersempit hati yang sebetulnya adalah ruang paling luas untuk bertumbuh. Namun, satu hal yang juga bisa kita pahami adalah... Kegagalan tidak untuk menjatuhkan. -irba, 21 september...